Seburuk Tempat Adalah Pasar

SEBURUK TEMPAT ADALAH PASAR

3 minggu 8 jam 8 menit yang lalu 03 Jun 2021 Tanya Jawab 103
Ket Gambar : Ilustrasi

Tanya:

Assalamu’alaikum, wr, wb. 

Apa yang dimaksud dengan hadis “seburuk-buruk tempat adalah pasar?” Sebab, banyak teman-teman yang menjadi malas berbisnis dan juga menjadi takut bersaing di pasar disebabkan Nabi pernah mengatakan pasar dianggap tempat yang paling buruk. Terimakasih, wassalam. (Amir, Tembung)

Jawab:

Adapun yang dimaksud dengan hadis penanya di atas adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, “Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya,” (HR Muslim).

Bapak Amir yang terhormat, memahami hadis di atas harus tepat dan komprehensif. Lebih dari itu hadis di atas tidak dapat terlepas dari konteks sehingga dapat memahaminya dengan benar. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw. yang merupakan pelaku pasar sejak belia, motivator bisnis, pengawas dan pengambil kebijakan pasar saat menjadi pemimpin di Madinah membenci dan menjauhi pasar. 

Adapun yang dimaksud oleh di atas adalah realitas pasar adalah tempat yang sering terjadi kecurangan, sumpah palsu sehingga harus disikapi secara berhati-hati, penuh waspada dan harus disikapi dengan iman yang kuat. Pasar sebagai tempat berdagang merupakan tempat peredaran uang, dan merupakan pusat kepentingan banyak pihak bahkan hampir semua orang berkepentingan terhadapnya. Karenanya, tidaklah mengherankan jika di pasar banyak dijumpai praktek-praktek kotor dalam berbisnis seperti menipu, menjelek-jelekkan produk orang lain, praktek spekulatif, riba, praktek monopoli dan seterusnya. 

Hal ini juga dapat dilihat penjelasan Imam An-Nawawi terkait dengan hadis di atas yang terdapat dalam Syarah Shahih Muslim “Nabi bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan, dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, riba, janji-janji palsu, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Syarah An-Nawawi ‘ala Sahih Muslim (Beirut, Daru Ihyait Turats Al-Arabi: 1392 H). 

Hadis ini dipahami dengan membaca hadis-hadis yang lain. Rasulullah Saw. mengingatkan pelaku pasar untuk selalu berhati-hati dan melakukan praktek-praktek terpuji, Sebagaimana pada hadis yang lain disebutkan “Sesungguhnya sebaik­baik usaha adalah usaha pedagang, yaitu pedagang yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, diberi kepercayaan tidak berkhianat, berjanji tidak ingkar, membeli tidak mencela, menjual tidak memuji, bila berutang tidak lalai, dan bila berpiutang tidak menyulitkan.” 

Memahami hadis di atas dengan kebencian terhadap pasar bertentangan dengan hadis di atas. Justru, hadis di atas menunjukkan Nabi Saw. sangat menyenangi pelaku pasar asal berlaku jujur, amanah, tidak mencela, tidak lalai membayar hutang dan seterusnya. Bahkan seperti yang disebutkan pada hadis yang lain, “Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad). Lebih dari itu, Nabi Muhammad Saw. adalah pendiri pasar di Madinah saat peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Hal ini menunjukkan pendirian pasar dan masjid adalah institusi yang yang sangat penting dan bekedudukan yang sama penting untuk membangun peradaban umat. Wallahu’alam. 

 Dr. Mustapa Khamal Rokan, MA

Ketua Komisi Pemberdayaan Masjid dan Seni Budaya Islam MUI Kota Medan