MENSYI’ARKAN Al-QUR’AN VIA MTQ (Apresiasi MTQ Kota Medan ke 53)

MENSYI’ARKAN AL-QUR’AN VIA MTQ (APRESIASI MTQ KOTA MEDAN KE 53)

11 bulan 1 minggu 1 hari 20 jam 53 menit yang lalu 14 Feb 2020 Berita 132
Ket Gambar : Prof. Dr. H. Mohd. Hatta, Ketua Umum MUI Kota Medan dalam Acara Pembukaan MTQN Ke-53 Kota Medan

Peranan Al-Qur’an dalam kehidupan umat Islam suatu hal yang niscaya dan mesti. Doktrin ini selalu dilestarikan dengan berbagai cara dan metode supaya melestarikan al-Qur’an sepanjang zaman. Di antara kegiatan yang dilakukan adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) mulai tingkat kecamatan sampai internasional yang merupakan salah satu altenatifnya  

Dalam kaitan ini, merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Kota Medan yang menyelenggarakan MTQ tingkat Kota ke 53 yang berlangsung dari tanggal 15 s/d 22 Pebruari tahun 2020 di Medan Selayang. Acara MTQ tersebut diharapkan adalah untuk kembali memasyarakatkan al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat yang mungkin sudah melupakan dan tidak perduli dengan pedoman hidupnya sendiri.

Bahkan, di era modern dewasa ini terjadi pergeseran nilai-nilai yang dianut umat Islam. Semangat untuk menjadikan al-Qur’an acuan hidupnya mulai redup untuk tidak mengatakan hilang dengan hantaman peradaban global yang menyeret umat Islam hampir pada seluruh lapisan tidak simpati terhadap al-Qur’an. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya umat Islam tidak pandai membaca al-Qur’an padahal tempat untuk belajar atau media dan fasilitas serba lengkap untuk bisa mengetahui al-Qur’an.

MTQ secara sederhana dimaknai dengan kegiatan perlombaan al-Qur’an dengan berbagai macam jenis yang diperlombakan. MTQ pertama kali diadakan adalah di Asahan Sumatera Utara yang diprakarsai oleh M. Ali Umar  pada hari selasa tanggal 12 Februari tahun 1946 tepatnya di desa Pondok Bungur atau disebut juga Pondok Bunga (Sejarah MTQ: 1989). 

            Menarik untuk membaca sejarah pembentukan MTQ pertama kali yang sarat dengan penolakan dari guru-guru agama pada saat itu. Alasan mereka adalah karena al-Qur’an ayat al-Qur’an tidak boleh diperjual belikan dan tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Muhammad Saw maka hukumnya haram. Padahal, tujuan utama M. Ali Umar adalah untuk membangkitkan gairah dan semangat umat Islam berpegang teguh terhadap al-Qur’an yang pada saat itu sudah mulai memudar. Terlebih lagi, dalam kondisi sedang dikuasai dan dijajah Jepang sehingga perlu untuk istiqamah terhadap al-Qur’an. Terlebih lagi, dengan memberikan hadiah bagi setiap pemenang yang hukumnya sama dengan judi. Reaksi ini akhirnya mempunyai pengaruh kepada orang tua untuk tidak mengikutsertakan anak-anaknya.

Maka solusi yang dilakukan M. Ali Umar adalah dengan mengundang ulama yang masyhur pada saat itu dari Tanjung Balai untuk meminta fatwa supaya tidak menggelisahkan masyarakat atas acara tersebut yang tidak disetujui para guru agama.  Para ulama yang diundang tersebut adalah Syaikh H. Tahir Abdullah, Syaikh Ismail Abdul Wahab yang syahid di tembak penjajah di penjara Pulau Simardan, dan Syaikh H. Ahmad Dahlan.

Namun, setelah para ulama tersebut menjelaskan bahwa apabila al-Qur’an diperlombakan dengan tujuan menggairahkan membaca dan menghayati al-Qur’an karean Allah semata-mata, maka hukumnya sunat, yaitu berpahala dikerjakan. Tetapi, apabila Al-Quran itu diperlombakan sebagai alat untuk mencapai tujuan keduniaan dengan riya maka hukumnya haram.

Untuk selanjutnya, MTQ pun digelar pada tingkat provinsi yang digagas oleh Syaikh H. Abdul Halim Hasan di Binjai pada tahun 1951 di halaman Masjid Raya Binjai.  Peserta yang ikut mengambil sebanyak 15 orang qori dari berbagai daerah, termasuk di antaranya H. Azra’i Abd Rauf dari Medan, H. Usman Fattah dari Binjai, Musa Tambi dari Asahan. Bahkan, diperkirakan bahwa MTQ tingkat provinsi Sumatera Utara ini yang pertama kali dan pada tingkat nasional.  

  Setidaknya, dari dua peristiwa MTQ di atas, dapat disimpulkan bahwa Sumatera Utara dapat dikatakan pencetus pertama pelaksanaan MTQ yang dalam MTQ kali ini diadakan di Tanjung Balai merupakan tempat yang berdekatan dengan pelaksanaan MTQ pertama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa juri dan dewan hakim pertama adalah ketiga ulama dari Tanjung Balai.

 

Mensyi’arkan Al-Quran

            Di era modern ini, menyandingkan kalimat umat Islam dan Al-Quran hampir dapat dikatakan hanya sebagai ucapan yang sifatnya “isapan jempol”. Hal ini dikarenakan umat Islam yang seyogianya sebagai cerminan dari seluruh isi Al-Quran tidak lagi terealisasi. Al-Quran tidak lagi hidup dan mewarnai kehidupan umat Islam yang hampir dapat dikatakan sudah jauh dari tuntunan Al-Quran itu sendiri. Jangankan untuk mengamalkannya dengan benar dan komitmen, dalam membacanya saja ada yang tidak mampu. Sungguh ironis, dalam era yang serba canggih alat berupa CD, kaset, you tube yang dapat dijadikan media mendalami Al-Quran.

            Sangat berbeda sekali kondisi faktual pada saat Al-Quran diturunkan pada generasi pertama umat Islam yang sungguh-sungguh mengamalkan Al-Quran tanpa memilih dan memilahnya. Sehingga dalam sejarah generasi gold age umat Islam adalah mereka yang konsisten dan mengembangkan Al-Quran sebagai guiding mereka dalam hidup.

            Dalam hal inilah acara-acara MTQ, baik pada tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional sebagai media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan Al-Quran dalam pengertian mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadapa Al-Quran.

            Hal ini diindikasikan dengan beragam cabang dan jenis cabang yang diperlombakan dalam MTQ yang terus berkembang dan bertambah dengan cabang-cabang baru seperti , qira’ah Al-Quran (membaca Al-Quran dengan berbagai macam jenis bacaan), fahmil qur’an (dalam konteks memahami Al-Quran, syarhil qur’an (mensyarahkan isi Al-Quran), hifz Al-Quran (menghapal Al-Quran), khath Al-Quran (tulisan Al-Quran), bahkan dalam dunia MTQ telah dibuka cabang baru yaitu Musabaqah Makalah Alquran (MMQ) sebagai satu bentuk memotivasi umat Islam untuk dapat melahirkan tulisan ilmiyah yang berwawasan Alquran. Setidaknya, cabang baru ini menjadi sebuah media baru untuk menggali, memahami dan upaya mensyi’arkan Al-Quran. Harapan besar adalah dunia MTQ terus berkembang dan dapat memberikan warna kepada seluruh masyarakat. Cabang yang lain yang belakangan dimusabaqahkan adalah musabaqah cabang hadis yang dan penulisan makalah hadis.  

            Dari berbagai jenis perlombaan tersebut setidaknya MTQ memberikan beberapa manfaat terhadap memasyarakatkan Al-Quran, yaitu: Pertama, mengenalkan kembali Al-Quran kepada seluruh masyarakat bagaimana Al-Quran  seyogianya diposisikan dalam kehidupan tidak saja secara konvensional dibaca, tetapi harus dipahami, disyarahkan dan didakwahkan. Kedua, dengan MTQ diharapkan muncul gairah dan semangat masyarakat untuk  menjadikan Al-Quran pedomannya sehingga diri, keluarganya diarahkan untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Ketiga, terciptanya regenarasi qur’ani, dalam makna bahwa setiap generasi muda yang ikut serta dalam seluruh jenis perlombaan merupakan generasi yang diharapkan dapat terus eksis untuk mendalami sekaligus dapat mengamalknnya.

Penutup

            Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) seyogianya dipahami sebagai sebuah media untuk menumbuhkan kembangkan semangat umat Islam untuk  mencintai Al-Quran dalam arti sesungguhnya. Dengan demikian, diharapkan Al-Quran dapat mewarnai kehidupan umat Islam di tengah-tengah pertarungan global yang selalu membuat manusia lupa terhadap agamanya. Maka momemtum MTQ Kota Medan di Medan Selayang suatu hal yang mesti diberikan apresiasi dan didukung seluruh pihak dalam mensukseskan syi’ar Al-Quran.

Penulis: Dr. Watni Marpaung, MA

Sekretaris Komisi FAtwa MUI Kota Medan