JAGA LISANMU

JAGA LISANMU

8 bulan 6 hari 12 jam 52 menit yang lalu 18 Feb 2020 Artikel75
Ket Gambar : gambar dari internet

Dr. H. Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan 

        Manusia akan dinilai dari ucapannya. Manusia akan punya beragam kriteria dan ciri-ciri  juga melalui ucapannya. Ucapan yang sederhana keluar dari bibir manusia, akan memiliki kekuatan yang bisa mengoyak perjalalan waktu, bisa mengibas kebekuan luka sejarah, memberi isyarat untuk masa depan. Ucapan juga bisa mengubah segalanya. Tangis luka menjadi senyum penghibur, tawa bahagia, menjadi gundah gulana, dan mengobrak abrik semua prasangka. Nilai dan estetika juga sering digandungkan pada ucapan manusia. Bahkan ucapan sering ditempatkan pada posisi yang menentukan manusia seperti pengemis atau hartawan, seperti pembohong atau penjujur. Seperti pengumbar atau  pendiam. Semua penilaian akan banyak digantungkan pada ucapan.

         Ucapan juga menjadi media perantara untuk memulai sebuah kebijakan. Ucapan bisa mempermainkan sejarah. Ucapan bisa membingungkan fakta, ucapan bisa mendramatisir nilai. Ucapan bisa membujuk suasana, ucapan bisa menistakan kecewa, dan bahkan ucapan juga bisa membunuh kemanusiaan. Tergantung manusia meletakkan ucapannya pada posisi yang membuatnya menjadi baik atau justru hanya sekedar menuntaskan pragmatisme hidup. Biarkanlah ucapan  menjadi media tersendiri meraih nilai dan estetika kehidupan. Tapi hidup bukan hanya sekedar membiarkan, karena peraturan hidup akan terbentuk dari setiap sisi perjalalan.

        Tuhan juga memberi rambu hidup bagi manusia. Dosa dan pahala menjadi instrumen awal untuk memulai hidup. Syurga dan neraka dijadikan pelabuhan terakhir bagi setiap prilaku diri yang kita lakoni selama masih berfas di dunia. Akhirat menjadi wilayah eksekusi terhadap akumulasi kehidupan. Tangis deru dan sujud syukur katanya akan menjadi ekspresi disetiap pertanggung jawaban hidup. Dan mulut sebagai institusi yang paling bertanggung jawab mengeluarkan butiran kata-taka yang menjadi seonggok kalimat itu adalah salah satu media penilaian yang siap mengantarkan manusia menuju “ hadiah hidup yang sebenarnya” hanya akan ada dua tempat sebagai pilihan, neraka atau syurga.

       Mari kita mengamati dalam setiap harinya, seberapa banyak ucapan yang kita keluarkan, sebarapa besar ucapan yang kita lahirkan dan membuat orang yang mendengarnya tersenyum, sedih, bahagia, ketakutan, bimbang, terluka, terbohongi, menjadi baik, menjadi jahat dan sederatan nilai yang didapat dari ucapan yang hanya semenit tersalurkan. Ucapan sedetik bisa menghasilkan nilai selamanya. Ucapan semenit bisa mengubah suasana, ucapan yang dikeluarkan, tidak akan menjamin semuanya kembali seperti semua. Ucapan yang baik adalah ucapan yang mengandung kebaikan dan kebenaran. Kebenaran tidak mengukur hasil dari ucapan. Kadangkala pendengarnya akan menangis atau justru tertawa. Tapi kebaikan adalah kalimat penghibur. Dia memiliki estetika tersendiri. Bukan untuk membohongi, tapi hanya sekedar mengantarkan kebaikan tepat pada waktunya.

         Seorang anak kecil yang mencorang-coreng buku gambarnya lalu bertanya pada ibunya, “ mama, bagus gak gambar mobil yang adik buat ini..” si mama yang melihat gambar tak beraturan itu  menjawab “ wah.., bagus sekali ya nak, besok mama akan Bantu menggambar mobil jenis yang lain ya nak..” ucapnya. Jawaban ini tidak benar, tapi jawaban ini baik, baik untuk membangun optimisme anak, baik untuk psikologi percaya dirinya  dan baik untuk meyakininya, bahwa dia punya potensi menggambar. Hal kecil bisa mengubah sesuatu yang besar. Tapi hal kecil juga bisa menghancurkan yang sudah dibina lama.

         Kebohongan dan kejujuran akan bergantung pada ucapan. Membiasakan jujur pada keadaan apapun itu adalah hal yang tersulit yang bisa dilakukan manusia. Hampir bisa dipastikan tidak ada manusia yang tidak pernah berbohong dari awal hidupnya sampai akhir hayatnya. Karena seolah ada kesimpulan baru yang sudah membudaya ditengah pragmatisme kemanusiaan, bahwa “ berbohong demi kebaikan itu dibenarkan”. Mungkin akan lebih tepat jika mengubah redaksi bahasanya. Karena sesuatu yang sempurna itu tidak hanya terisolasi pada yang benar saja, kesempurnaan kadangkala ditentukan oleh kebaikan. Dan kebaikan bisa saja belum benar. Meski kebenaran bisa menghantarkan kebaikan tepat pada waktunya.

        Manusia akan lebih bijaksana jika bisa meramu semuanya. Kekakuan hidup akan menghantarkan kita kelihatan pada satu sisi saja. Tapi keelastisan hidup juga bisa memberikan kesan bahwa kita tidak tidak tetap pendirian. Semua punya nilai bijak tentang postif dan negative. Semua punya hak untuk menempatkan kita pada sudut kanan atau kiri. Yang paling bijaksana adalah bukan hasil dari penilaian orang untuk kita, tapi terlebih penting adalah apapun nilainya, tidak mengubah kita untuk memberikan sesuatu yang positif bagi sekeliling kita.

        Mari mulai menjaga ucapan. Jujur untuk mengatakan seseorang jelek itu bagus, tapi belum tentu baik untuk membantunya menjadi lebih optimis menjalani hidup, menjadi potimis, dan menjadi Pede bergaul dengan sesama. Oleh karenanya, menyikapi hidup salah satunya dengan memaksimalkan potensi ucapan. Ucapan sebagai hadiah, ucapan sebagai kebenaran, ucapan sebagai kebaikan, dan ucapan tanpa suara jika memang itu pada keadaannya. Diam akan menjadi teman dari ucapan. Berucap untuk tidak mengatakan apapun yang tidak baik  dan benar bagi kebaikan orang. Semoga kita menjadi manusia yang lebih bijaksana menyikapi hidup ini. “ berucaplah sedaya mampumu, tapi ingat ucapanmu yang akan menyibakmu dalam pembuktian, atau ucapanmu justru memenjarakanmu dalam jurang pendusta selamanya. Penilaian orang tak bisa dibeli dengan harta, maka jaga ucapan sebelum ucapanmu menyayat kejujuranmu. Akhirnya, jika sebuah panah yang  telah melesat dari busurnya dan membunuh seseorang yang tak bersalah tidak pernah bisa ditarik kembali. Demikian juga, kata-kata yang telah diucapkan dan telah menyakiti hati seseorang. Semoga kita selalu menjadi orang yang menjaga lisannya.