HARGA AMAL DALAM PENDIDIKAN

HARGA AMAL DALAM PENDIDIKAN

8 bulan 4 hari 12 jam 5 menit yang lalu 20 Feb 2020 Artikel103
Ket Gambar : gambar dari internet

Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan

 

         Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang motivasi belajar. Nak, apa niatmu belajar, si murid menjawab, supaya pintar pak. Lalu si guru bertanya lagi, kalau pintar emang kenapa, biar bisa bekerja pak, jawab si murid. Lalu si guru bertanya lagi, kalau sudah bekerja mau apa lagi ?, ya biar berpenghasilan pak.., si guru terus bertanya, kalau sudah berpenghasilan lalu mau apa?, biar bisa membantu keluarga pak. Si guru  bertanya lagi, kalau sudah membantu keluarga, mau ngapain lagi?, ya mau menolong orang lain pak, si guru bertanya lagi. Kenapa harus menolong orang?, si murid menjawab, karena itu perbuatan baik. Si guru bertanya untuk yang terakhir kalinya, kenapa harus berbuat baik?, yak karena itu termasuk perintah Allah.. oo niatnya mau mengerjakan perintah Allah rupanya.., kenapa mau patuh sama Allah saja jalannya kok rumit sekali, sahut si guru.

          Cerita tersebut menggambarkan kepada kita betapa orientasi belajar itu sangat penting untuk mendudukkan nilai yang akan diraih nantinya. Banyak motovasi belajar yang ditanamkan sedemikian rupa untuk tujuan praktis tanpa mengikatnya dengan nilai nilai keislaman. Pekerjaan kerap menjadi ukuran praktis yang disuguhkan sebagai niat, orientasi dan motivasi dalam belajar. Padahal, segudang rencana bisa disusun untuk tetap mendapatkan apa yang diinginkan tanpa menafikan nilai ibadah di dalamnya.

         Menanamkan sikap dalam belajar ternyata menjadi penting. Sebab ketika sikap yang ditanamkan tidak seimbang dengan motivasi belajar hal tersebut akan menghilangkan penghargaan terhadap proses belajar mengajar itu sendiri. Beberapa sikap yang menjadi penting dalam belajar itu yang juga diajarkan dalam kitab Ta’lim al Muta’allim, antara lain: sikap menghargai niat yang ikhlas belajar sebagai ibadah. Sikap menghargai guru sebagai mediator dan sarana belajar. Serta sikap menghargai proses belajar mengajar sebagai sebuah khazanah penyaluran keilmuan yang diharapkan memberikan nilai keberkahan dari Allah SWT.

          Jika kita mengenal teori Bloom dalam dunia pendidikan sebagai proses kognitif, afektif, dan psikomotorik. Maka proses sikap dalam keilmuan sebagai afektif yang harus menjadi sebuah sikap kesungguhan, keuletan, keseriusan dan ketawadhu’an dalam belajar. Pertanyaannya, sudahkah hal ini ditanamkan dalam dunia pendidikan kita saat ini.

        Dalam khazanah keislaman. Bisa di contohkan ketika Imam Syafi’i menjalani proses yang sangat panjang dari satu daerah ke daerah lain hanya untuk menimba ilmu. Padahal jika dihitung-hitung, durasi waktu dalam perjalanan lebih lama dibanding proses belajarnya. Hal ini tentunya menunjukan sikap kesungguhan dan keseriusan serta ketawadhu’an dengan mendatangi gurunya satu persatu. Dengan keseriusan dan kesungguhan dalam belajar akan menghasilkan ilmu yang baik, benar dan bermanfaat. Sebuah penghargaan yang besar terhadap perkembangan khazanah keilmuan. Nilai keberkatan akan terangkum dalam keseriusan serta ketawadhu’an dalam belajar.

         Pertanyaan yang sederhana yang harus segera dijawab adalah, apa tujuan proses belajar mengajar yang dilakukan?, membuat siswa pintar, mengerti dan memahami, atau bias membentuk sikap keilmuan yang sesuai dengan nilai keislaman. Semakin pintar dan tinggi pendidikannya, semakin mampu untuk mengambil sikap keilmuan, menjawab problem di tengah masyarakat dengan prilaku layaknya orang yang berpendidikan tanpa pernah meninggalkan pakaian ketawadhu’an. Atau justru tujuan proses belajar mengajar tersebut akan menghasilkan intelektual yang pintar, memahami perkembangan khazanah keilmuan namun tidak mencerminkan prilaku layaknya apa yang dikatakan pepatah sebagai “ ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk”.

Orientasi Qur’ani.

         Perintah belajar adalah perintah yang paling tua dan paling awal diturunkan Allah kepada semua makhlukNya sebagai pertanda bahwa proses pendidikan adalah sebuah kemestian yang harus dilakukan setiap ummat manusia. Kalimat Iqra’ dalam Surat Al Alaq yang artinya “ bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah Yang Maha Pemurah..” . Belajar sebagai sebuah proses menjadi sebuah perintah Allah yang harus menyeleksi seluruh penjuru alam ini dengan dan atas nama Allah SWT. Akal sebagai alat untuk berfikir yang dianugerahi Allah kepada ciptaan Nya bernama manusia adalah sebagai bukti yang kuat bahwa Allah menginginkan manusia mempergunakan anugerah tersebut untuk proses “ membaca “ sebagai alat belajar dan mengetahui apa saja.

       Namun, secara tehnis memperoleh keilmuan itu juga harus sesuai dengan khazanah keislaman berlandaskan nilai nilai Qur’ani. Ada sikap yang harus ditanamkan di dalam menjalani proses belajar mengajar. Sikap yang secara tersirat diletakkan Allah melalui ayat-ayat Nya. Salah satunya ada dalam Surat Al Ashr “ demi masa, sesungguhnya manusia itu benar benar dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati dalam kesabaran”. Ayat yang sesungguhnya menegur manusia dalam setiap aktivitasnya untuk kembali ke “ khittah” kemanusiaannya dihadapan Allah. Apapun cara dan kelakuannya, tetap saja manusia rugi ketika prinsip-prinsip keislaman tidak menjadi pedoman dan terapan.

    Dalam ayat tersebut tergambar jelas sikap yang juga harus digunakan dalam proses belajar mengajar secara islami. Orinetasi apa yang sebenarnya harus dipergunakan dalam menjalani proses pendidikan dan belajar mengajar. Kepintaran memang menjadi orientasi primer dalam belajar. Namun, tidaklah berguna kepintaran tanpa dibalut dengan sikap dan ketawadhu’an. Pantaslah Rasul kembali menegaskan melalui Hadisnya bahwa ditusnya beliau menjadi Rasul karena ada perilaku yang tidak stabil ketika itu “hanya sanya aku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak“. Ditamnbah lagi penegasan dari kalimat bijak  yang menyatakan bahwa “ adab (prilaku) itu diatas ilmu”.

        Sikap yang ditanamkan dalam belajar menjadi penting, mengingat proses belajar juga membutuhkan prilaku dan kesungguhan yang akhirnya akan berujung pada keberkatan ilmu. Beberapa afektif atau sikap yang harus ditanamkan dalam proses belajar, yaitu:

  1. sikap Amanu (beriman). Proses belajar yang dilaksanakan adalah sebagai pengikat dan penguat nilai keimanan dalam diri, bukan malah pengendur dan merusak nilai keimanan.
  2. sikap Amilus Shalihati (beramal shalih), yaitu sikap untuk kemaslahatan di masa mendatang. Bias mengajarkan ilmu kepada orang lain, menolong orang lain dalam kapasitas beramal demi kebaikan di hadapan Allah. Motivasi mengabdi di tengah tengah masyarakat, dan motivasi mengikhlaskan diri untuk berbuat baik pada siapapun.
  3. sikap watawa shoubil haqq (sikap menegakkan kebenaran). Ilmu yang didapatkan bukan membuat bingung dan sesat. namun ilmu yang didapat justru memberikan nilai kebenaran yang tertuang dalam nilai keislaman. Kebenaran yang hakiki. Dan kebenaran ,yang harus diterapkan dalam setiap kehidupan.
  4. adalah sikap watawa shoubis shabri( sikap menegakkan nilai kesabaran). Sikap terakhir yang harus ditanam adalah sikap menyadari bahwa setiap proses belajar harus disertai dengan kesabaran dan mengajarkan pentingnya sikap sabar dalam hidup. Sabar menjadikan diri lebih tawadhu’ dan rendah hati. Sabar akan mengikis keangkuhan dan kesombongan. Apalagi dalam dunia keilmuan, jika sudah tervirus oleh sikap angkuh dan sombong, maka ilmu akan tidak berharga lagi.

        Oleh karenanya, penting untuk mengembalikan ilmu dan proses mendapatkan ilmu Pda khazanahnya. Yaitu sebagai sebuah sikap “trilogy“  yang mengedepankan nilai keilmuan, sekap dan aplikasi di tengah tengah ummat. Tidak akan sempurna sebuah ilmu jika tidak ada satu diantara ketiga hal tersebut. Seorang yang berilmu, seyogyanya memiliki sikap rendah hati dan tawadhu’, memiliki orinetasi untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada siapapun. Dan yang terpenting adalah menghargai bahwa proses belajar dan mendapatkan ilmu itu adalah sebuah proses yang tidak ternilai harganya. Semoga khazanah keilmuan kita semaki membaik dan berkualitas. Amin ya rabbal alamin