SUGESTI RAMADHAN BAGI PEMBENAHAN PERILAKU REMAJA

SUGESTI RAMADHAN BAGI PEMBENAHAN PERILAKU REMAJA

6 bulan 1 minggu 3 hari 12 jam 51 menit yang lalu 14 Apr 2020 Artikel86
Ket Gambar : Gambar dari intenet

Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA
Sekretaris Umum MUI Kota Medan

            Akhirnya bulan Ramadhan datang kembali. serunya pasti sudah terbayang. Sahur kembali, puasa kembali, tadarusan kembali dan semua yang bernilai ibadah datang kembali. Tidak dapat dipungkiri, semua orang pasti akan senang menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Anak-anak juga pasti pada senang datangnya Ramadhan. Bayangkan saja, suasana bermain dengan kembang api dan petasan sering menjadi penghias menyambut Ramadhan. Meski sesekali dimarahi, tapi itu jadi bagian yang mengasyikkan.

            Saat menjelang Ramadhan, ada satu hal yang perlu ketia telusuri lebih jauh, apa makna yang paling dalam dari bulan Ramadhan. Kenapa kita sering merasa dari tahun ke tahun berada di bulan Ramadhan, tapi selalu aja ada yang tidak maksimal dari ibadah, perbuatan dan tingkah laku kita. Bahkan setelah bulan Ramadhan berakhir, maka berakhir pula ibadahnya, keasyikannya untuk bisa lebih dekat dengan Allah.

            Salah satu yang paling mendasar, bahwa Ramadhan sebagai sarama berpuasa bagi kaum Muslim bisa menjadi cara sederhana dan efektif membenahi karakter remaja Indonesia. Hal inilah yang seharusnya menjadi pengertian berasama bagi kita, khususnya umat Islam untuk menjadikan Bulan Ramadhan tidak hanya sekedar berpuasa, tapi menggali makna kejujuran, keadilan, kebenaran, kesabaran, moral etis, kesederhanaan menjadi target membentuk karakter diri, khususnya bagi remaja.

            Orang tua, harus mampu menjadi instrument dan media untuk mencapai hal tersebut. Tulisan ini paling tidak mengantarkan kita untuk memahami seberapa pentingkah bulan Ramadhan bagi pembentukan karakter diri tersebut.

Salah satu instrument besar kewajiban dan eksistensi puasa ditegaskan pada Surat Al Baqarah ayat 183 :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

            Ayat ini menegaskan empat hal besar. Dan keempat hal itulah yang nantinya bisa menjadi titik berangkat kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan kali ini.

            Pertama, Allah menyebut orang-orang yang berpuasa itu dengan sebutan “ beriman”. Sebutan ini sesungguhnya sebutan yang paling tinggi pada tingkatan umat Islam. Sebutan “ orang-orang beriman “ itulah yang menjadi ukuran bagi siapa saja yang ikut serta melaksanakan puasa.

            Ada perbedaan yang mendasar dari kedua istilah tersebut. Pertama, sebutan muslim. Seorang muslim adalah orang yang menganut agama Islam, yang mengakui ajaran Islam dan menjadi bagian dari komunitas orang-orang Islam. Seorang muslim adalah orang yang berusaha mengerjakan segala perintah Allah, baik dalam bentuk yang diwajibkan, dianjurkan maupun yang disunatkan. Dan orang-orang yang berusaha meninggalkan segala larangan Allah.

            Kedua, sebutan mukmin. Seorang mukmin adalah seorang muslim yang sudah dihadiahi Allah dalam hatinya sebuah kenikmatan dan kedamaian dalam melaksanakan semua perintah Allah. Orang-orang yang menikmati ibadahnya, menikmati kedekatannya dengan Allah. Orang yang rindu dekat dengan Allah. Semua kewajiban yang diberikan Allah, bukan lagi menjadi beban, tapi semua kewajiban sudah menjadi sebuah kenikmatan. Perbedaan antara keduanya terletak pada kenikmatan mengerjakan perintah Allah tersebut.

            Karena itulah, pesan yang paling awal dari kewajiban berpuasa bagi kita adalah penegasan Allah kepada kita bahwa kita adalah orang beriman. Maka tersenyumlah karena kita sudah diakui Allah sebagai orang beriman. Atau, Allah sedang menantang kita, apakah kita benar-benar mampu menjadi orang yang beriman disisi-Nya. Caranya dengan menikmati berpuasa sebagai sarana untuk bisa lebih dekat dengan Allah. Meyakini, bahwa berpuasanya kita adalah cara kita untuk menyadari bahwa makan, minum dan memenuhi semua hasrat selera kita adalah nikmat yang sangat besar dari Allah. Maka kita pasti akan senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang kita dapatkan.

            Beriman itu juga bisa dimaknai dengan menjadikan waktu selama 30 hari berada di Bulan Ramadhan sebagai bonus waktu yang diberikan Allah kepada kita untuk mengerjakan banyak hal yang semuanya bisa bernilai ibadah di hadapan Allah. Mengaji, sholat, membantu orang tua, membantu orang lain, membaca buku, bersilaturrahmi, bersedekah dan semua kegiatan apapun yang disertai dengan niatan dan perbuatan yang baik.

            Ciri-ciri lain beriman dalam melaksanakan ibadah puasa ini juga adalah dengan mengikis sedikit demi sedikit semua kebiasan buruk kita, apapun itu. Nah, bagi kita, mungkin sebutan orang-orang beriman itu lebih pantas dimaknai sebagai sebuah tantangan. Allah sedang menantang kita melalui perbuatan yang kita lakukan, apakah kita pantas disebut sebagai orang beriman. Makanya, kita harus berkompetisi di bulan Ramadhan nantinya.

            Pesan yang kedua, terletak pada kalimat “ kutiba”. Yang artian dasarnya adalah dituliskan. Sedangkan makna umumnya adalah “ diwajibkan”. Olehkarenanya, puasa di Bulan Ramadhan adalah sebuah kewajiban yang sangat besar kekuatannya diberikan kepada kita. Karena Allah sudah menerangkannya dengan kalimat “ kutiba”. Yaitu sebuah kewajiban yang sudah jelas dituliskan Allah dalam Alquran. Hal ini sama maksudnya dengan hukum yang ada.

            Dulu, masalah pornografi dan porno aksi hanya sebatas kerisihan kita saja melihatnya. Hati kita menentangnya, dan kita ingin marah karenanya, tapi setelah dibuat Undang-undangnya secara tertulis dan sudah disahkan. Maka, kemarahan, kerisihan kita melihat semua tindakan pornografi dan pornoaksi sudah bisa dijawab denga hukuman dan sanksi yang berlaku yang ada dalam undang-undang tersebut.

            Begitu juga dengan kewajiban berpuasa. Berpuasa di Bulan Ramadhan sudah menjadi aturan, atau semacam undang-undang yang sudah disahkan Allah secara legal. Maka, mau tak mau, suka tak suka semua umat Islam haruslah berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak ada alasan untuk tidak berpuasa selama tidak ada udzur (pengecualian) yang juga sudah disebutkan dalam Alquran, seperti sakit yang karenanya tidak sanggup berpuasa, atau, jikapun ia berpuasa, ditakutkan nanti akan semakin berat penyakitnya. Bagi orang yang sedang dalam perjalanan panjang, dan bagi wanita-wanita yang sedang haidh atau nifas ( darah yang keluar setelah melahirkan).

            Puasa di Bulan Ramadhan pada akhirnya bukan menjadi ibadah yang biasa, bukan menjadi ibadah yang mudah, sebab Allah sudah menegaskan siapapun yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan baik dan benar, maka dialah yang disebut orang beriman. Maka, marilah kita berusaha untuk memaksimalkan ibadah puasa kita.

            Pasan yang ketiga. Allah lebih memperkuat pesan kewajiban berpuasa ini sebagai ibadah yang spesial bagi umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari kalimat “kama mutiba ‘alalladzina min qablikum”. , maksudnya, kewajiban berpuasa itu ternyata sudah lebih dahulu diberikan Allah kepada umat-umat sebelum umatnya Muhammad. Maka. Berpuasa ternyata dijadikan Allah sebagai kompetisi antar umat. Allah sedang menguji kita sebagai umat Muhammad untuk bisa membuktikan apakah kita bisa lebih baik berpuasanya, lebih memaksimalkan waktu Ramadhannya dibanding umat-umat terdahulu.

            Budaya kompetitif inilah yang menjadi makna besar dari berpuasa di Bulan Ramadhan. Jadi, kita tak perlu bersenang hati dulu, sebab kita sudah berpuasa, lalu kita sudah menjadi orang yang beriman dihadapan Allah, tanpa mementingkan kualitas berpuasa dan hari-hari kita selama di bulan Ramadhan. Kita harus meyakini, bahwa puasa kita di Bulan Ramadhan ini, selain dari mengumpulkan nilai kebaikan dalam keimanan kita dihadapan Allah, kita juga sedang berkompetisi dengan umat-umat dahulu yang juga melaksanakan puasa.

            Pesan yang keempat, sebagai pesan yang terakhir dari ayat ini termaktub dalam kalimat “ la’allakum tattaqun”. Maksudnya, semoga kelak kamu ( kita ) menjadi orang yang bertakwa. Pesan besar dari penggalan ayat ini adalah hadiah Allah kepada setiap umat yang berhasil dalam kompetisinya berpuasa dan memaksimalkan setiap waktu di bulan Ramadhannya dengan hadiah takwa.

            Takwa itu adalah konsistensi (ketetapan pendirian) kita untuk tetap melaksanakan ibadah kepada Allah, bahkan setelah bulan Ramadhan berlalu. Kita tetap merasa penting melaksanakan ibadah, kita tetap merasa yakin, semua prilaku dan perbuatan kita sebagai ibadah. Dan kita semakin yakin, dan semakin merasa nikmat beribadah kepada Allah. Kita akan menjadi orang yang tetap memaknai seluruh perbuatan kita, baik setelah bulan Ramadhan berlalu akan menjadi ladang ibadah di hadapan Allah.

            Hadiah takwa inilah yang menjadi idaman bagi setiap umat Islam yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Oleh karenanya, dalam kompetisi kita kali ini di bulan Ramadhan. Kita harus berusaha menjadi orang yang benar puasanya, dan pada akhirnya benar-benar menjadi orang yang bertakwa di hadapan Allah sebagai hadiah terbesar dalam kehidupan kali ini.

            Maka, jangan mau kalah dengan orang dewasa dan orang tua kita dalam beribadah. Kita juga sebagai anak muda pasti bisa menjadikan bulan Ramadhan sebagai ladang amal dan ibadah. Yakinlah…!!