Jadi Orang Bertaqwa Pasti Beruntung

JADI ORANG BERTAQWA PASTI BERUNTUNG

4 minggu 8 jam 47 menit yang lalu 27 Mei 2021 Berita 265
Ket Gambar : gambar dari internet

Dalam kitab Al-Munabbihaatu Ala al-Istidaadi li Yaumi al-Maad, Imam Ibnu Hajar al-Asqalaaniy mencantumkan ujaran Al-Amasy Sulaiman bin Mihran al-Kuufy, Siapa yang bermodalkan takwa maka lisan tidak mampu menyebut betapa besarnya keuntungan agama, dan siapa yang bermodalkan dunia maka lisan juga tidak mampu menjumlahkan kerugian agamanya.”

Apa yang bisa dipahami dari ucapan Imam al-Kuufy tersebut? Kata-katanya sangat sederhana, tapi kandungan maknanya sungguh luar biasa. Karena mampu memahamkan tugas umat Muhammad SAW. di dunia ini. Yaitu, tidak bergantung kepada dunia dan segala isinya, tapi bergantunglah kepada Allah Jalla Wa ‘Azza.

Artinya, lintasi alur kehidupan ini dengan bekal takwa. Menjalankan aturan-aturan yang diperintahkan Allah dalam setiap aktivitas, sekaligus menjauhi segala hal yang dibenci-Nya dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Tidak boleh ada sedikit pun perbuatan zhalim yang ‘terselip’, baik zhalim terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam aktivitas yang dilakukan. Kelihatan mudah, memang. Namun riilnya, sulit untuk menjalankannya. Hanya dengan bekal mengingat Allah dengan sungguh-sungguh baru bisa melakonkannya dengan baik.

Contoh sederhananya, tidak sedikit di antara kita yang masih melakonkan sesuatu yang kerap menilainya dengan materi. Kalau tidak ada uangnya, untuk apa dikerjakan? Kalau cuma ikhlas beramal, mau makan apa nanti? Kalau cuma dapat kata Terima Kasih, bisa ‘telungkup’ panci dan kuali di dapur?

Jika pertanyaan demi pertanyaan di atas diperhatikan, nyaris kita lupa siapa sebenarnya pemberi rezeki? Uang hasil pekerjaan kita ataukah Allah SWT. yang memberi rezeki? Sebera pa yakinkah kita dengan uang yang didapat dari pekerjaan yang dilakukan akan menjadi milik kita semua? Bukankah sudah sering didengar bahwa ada orang yang memiliki uang banyak, namun akhirnya dirampok? Bahkan, sudah pernah kita ingin memasukkan makanan ke dalam mulut, tetapi tiba-tiba jatuh dan tak jadi dimakan? Sudah pernah juga kita memasukkan makanan ke dalam mulut, malah akhirnya dikeluarkan lagi dari mulut?

Banyak pertanyaan demi pertanyaan bisa kita lontarkan jika kita bergantung dengan materi. Materi adalah bagian dari dunia. Padahal, seharusnya kita bergantung pada pemilik materi dan dunia. Allah SWT. Sudah sering kita alami, bingung tak memiliki uang namun tiba-tiba ada saudara yang memberi kita uang? Pernah juga barangkali kita alami, ingin membeli handphone atau mobil, uang yang tak dimiliki tak mencukupi untuk membelinya, namun tiba-tiba kita dapat kabar bahwa kita termasuk pemenang undian dari tabungan yang selama ini ditabung di bank? Pernah juga tak makan hampir dua hari ternyata kita masih bisa hidup dan sehat wal afiat.

Pertanyaan sederhananya, siapa yang menjamin hidup kita di dunia ini? Jawabannya pasti Allah SWT. Oleh karena itu, tingkatkan takwa kepada Allah. Lakonkan pekerjaan sehari-hari dengan nilai takwa. Jangan pernah ‘selipkan’ nilai menzhalimi diri sendiri maupun orang lain. Bukankah berulang kali di dalam al-Quran Allah SWT menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zhalim? 

Adalah pesan sederhana Yahya bin Muadz yang layak untuk selalu diingat, Orang yang mulia tidak bakal mendurhakai Allah, dan orang yang bijaksana tidak akan mengutamakan dunia di atas kepentingan akhirat. Pesannya selaras dengan apa yang diungkapkan Al-Amasy Sulaiman bin Mihran Al-Kufiy. Sama-sama mengajak untuk meletakkan takwa dalam segala aktivitas yang dilakukan.

Artinya, jika melakukan sesuatu, lakukan karena Allah. Bukan karena uang. Bukan karena jabatan. Bukan pula untuk cari muka di depan orang lain. Lakukanlah semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Persis seperti kata Tom Mc Iffle dalam buku Big Brain Big Moneynya, bekerjalah untuk diri Anda sendiri, bukan untuk uang atau gaji. Jika mindset bekerja saja demikian, seharusnya dalam beribadah juga demikian. Apapun profesi yang dilakoni, di dalam Islam, semuanya bisa dijadikan ibadah. Anda guru, bisa menjadikan pekerjaan tersebut sebagai ibadah. Anda pebisnis bisa menjadikan pekerjaan tersebut sebagai ibadah. Bahkan Anda yang karyawan juga bisa menjadikan pekerjaan sebagai ibadah.

Intinya, balut pekerjaan yang dilakoni dengan nilai takwa. Jangan pikirkan berapa uang yang bakal diterima, tapi pikirkanlah bahwa bekerja adalah bagian dari perintah takwa kepada-Nya. Allah Swt. di dalam al-Quran beberapa kali menyuruh umat Muhammad untuk melakukan pekerjaan yang paling baik. Misalnya di dalam surat al-Kahfi ayat 30, Sungguh, mereka yang beriman dan beramal saleh, kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.

Artinya, Allah Swt. menganjurkan kita untuk melakukan apapun dengan sebaik-baiknya. Karena dengan melakukan sebaik-baiknya akan membuat kita menjadi manusia profesional. Bila yang dilakukan selalu dihitung-hitung dengan materi, maka akan sulit menjadikan kita sebagai orang yang expert (ahli). 

Terlebih lagi dalam hal beribadah kepada Allah. Coba perhatikan kenapa mereka yang rajin shalat dhuha, shalat tahajjud, baca quran dan ibadah-ibadah lainnya rezekinya begitu murah? Kehidupan mereka begitu bahagia dan tentram. Seakan-akan rezeki yang mereka dapat selalu cukup. Jawabannya, karena mereka beribadah dengan sebaik-baik amal. Mereka tak mengharapkan apa-apa, kecuali pahala dan cinta Allah. kalau Allah sudah suka dan cinta kepada mereka, maka tak heran bila rezeki mereka begitu murah. Seakan-akan segala kesusahan mereka segera diselesaikan Allah dengan cepat. 

Makanya, pasti beruntung menjadi orang yang bertakwa dalam segala kondisi. Apa pun yang dilakonkan semuanya dilandasi ketakwaan kepada Allah. Karena orang yang bertakwa dalam segala kondisi sedang mengamalkan hadis Qudsi yang bernada,”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat zhalim atas diri-Ku sendiri dan perbuatan itu pula Aku haramkan atas kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang-orang yang aku bimbing, maka mohonlah bimbingan kepada-Ku agar Aku bimbing kalian. Wahai para hamba-ku, kalian semua lapar kecuali orang yang aku beri makanan, maka mohonkanlah makanan kepada-Ku biar Aku beri kalian makanan. Wahai para hamba-Ku, semua kalian telanjang, kecuali yang Aku sandangi, maka mohonkanlah pakaian kepada-Ku biar aku beri kalian pakaian. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di siang dan malam hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Ku, biar aku ampuni kalian semua 

Mari balut segala aktivitas yang dilakukan dengan pondasi takwa, bukan dengan harta. Yakinkan diri menjadi manusia yang bermanfaat. Jika sudah demikian, pesan Albert Enstein, Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusaha menjadi manusia yang berguna akan menjelma di dalam diri. Bukan hanya itu saja, sabda Nabi Muhammad SAW., Ada dua hal yang tak dapat mengungguli keduanya: beriman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin akan menjadi pilar dalam kehidupan sehari-hari. 

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc 

Ketua Komisi Informatika dan Komunikasi MUI Kota Medan