NASEHAT MENJAGA HUBUNGAN KELUARGA

NASEHAT MENJAGA HUBUNGAN KELUARGA

3 minggu 5 hari 7 jam 48 menit yang lalu 29 Mei 2021 Tanya Jawab 28
Ket Gambar : gambar dari internet

Tanya:

Assalamu’alaikum, wr, wb.

Salah satu yang mau saya amalkan selama Bulan Ramadhan ini adalah membina hubungan antara anak dan orang tua, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk itu ya pak? Terimakasih ( Husna Layna Nasution; Rantau Parapat)

 Jawab:

Wa’alaikum salam, wr, wb.

Ramadhan memang bulan yang penuh dengan berkah, salah satu yang termasuk keberkahan dalam bulan ramadhan diantaranya adalah meningkatnya hubungan antara anggota keluarga khususnya orang tua dengan anak yaitu pada saat sahur dan berbuka puasa. Pada bulan ramadhan, komunikasi yang mungkin kurang terjalin antar anggota rumah tangga terasa menjadi erat kembali. Beberapa yang dapat disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya dalam komunikasi keluarga yaitu:

Menghindari Syirik kepada Allah

            Pesan sentral dalam kehidupan ini adalah mengembalikan potensi kekuasaan dan ke- Maha-an hanya kepada Allah SWT. Semua perantara yang dibuat untuk bisa lebih dekat kepada Allah harus tetap menjadi perantara. Bukan perantara yang seolah menjadi tuhan baru dalam setiap perlakukan dan perbuatan. Oleh sebab itulah, pesan kedua Luqman kepada anaknya yang tertera dalam Al Quran Surat Luqman ayat 13 adalah tentang larangan syikri kepada Allah SWT. Termasuk dalam melaksanakan ibadah haji. Segala ritual yang dilakukan, jangan sampai memberikan indikasi yang berlebihan sehingga ada kesan menyekutukan Allah.

Tidak Sombong dan Banyak Bersedekah

            Harta akan menjadi peluang untuk kita bisa berbuat baik atau berbuat buruk. Potensi murah hati akan senantiasa berdekatan dengan potensi sombong dan kikir ketika memiliki rezki. Oleh karenanya, pesan sentral Idhul Adha juga ada kaitannya dengan kerelaan untuk mengikhlaskan hal yang kita miliki, sesuatu yang kita sukai, dan harta yang susah payah kita cari untuk dirasakan oleh orang lain juga. Maka. Nilai keikhlasan akan menjadi patokan utama dalam menjalani hal ini.

            Hal ini sejalan dengan Hadits Rasulullah dengan sanad yang Shahih menjelaskan bahwa “ barang siapa yang memiliki kelapangan rezki tapi tidak mau berkorban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kita” dan ada bebara matan lainnya yang hamper sama. Begitu juga dengan pesan Luqman terhadap anaknya dalam Al Quran Surat Luqman ayat 18 “ bahwa Luqman melarang anaknya untuk berlaku sombong  dan angkuh, sebab Allah tidak suka dengan orang-orang yang sombong dan suka membanggakan diri”.

            Oleh karenanya, semua pesan sentral Alquran, khususnya tentang hubungan orangtua dan anak haruslah sampai pada semua kalangan, tidak hanya orang dewasa dan orang tua, bahkan yang terlebih penting juga kepada anak-anak dan remaja bagaimana menyikapi hidup. Sebagaimana yang dipesankan dalam kitab Ta’lim al Muta’allim  bahwa Semakin tinggi ilmu dan pengalamannya, maka semakin tawadhu’ dan rendah hati ia di dalam keoptimisannya.

Upaya perekat hubungan keluarga

Kehidupan manusia yang sempit ini harus mampu menjadi penguat bahagian kecil hidup manusia. Bagaimana kehidupan kita bisa dipoles dengan gejala yang baik dalam proses kehidupan ini.

Ada tiga instrument dalam keluarga yang mulai ditinggalkan, yang pertama sholat berjamaah di rumah, walaupun belum bisa ke Masjid, yang kedua membaca Alquran, dan yang ketiga waktu bercengkrama bersilaturrahmi.

Kesibukan yang dihadapi orang tua membuat sempitnya peluang sholat berjamaah. Padahal, sholat berjamaah di rumah menjadi pelatihan informal terhadap anak untuk menguatkan nilai-nilai ketauhidan dan kepatuhannya. Bisa juga pemaknaan sholat sebagai ibadah mahdhah dianggap sebagai wilayah privasi, sehingga orang tua dan anak tidak saling mencampuri keputahan dalam beribadah, khususnya sholat. Inilah yang menjadi bias mengapa keringnya suasana kehidupan keluarga yang dihiasi dengan sholat berjamaah.

Begitu juga dengan membiasakan diri membaca Alquran. Jauh dari yang kita pahami, bahwa rumah yang di hiasi dengan bacaan Alquran tidak akan pernah kering dengan kebaikan. Wilayahnya sangat abstrak, tapi siapapun yang mengamalkannya akan mampu membenarkannya. Salah satu kekeringan yang juga terjadi dalam kehidupan rumah tangga adalah jarangnya rumah di hidupkan dengan bacaan Alquran. Inilah yang perlu digerakkan kembali. Keterbiasaan membaca Alquran akan member ruang bathini yang kuat antara hubungan orangtua dan anaknya.

Yang terakhir adalah sempitnya waktu yang dimiliki untuk bercengkrama bersilaturrahmi orang tua dan anaknya, sehingga semakin memungkinkan seorang anak banyak menyimpan rahasia dari orangtuanya. Baik masalah pribadi, maupun masalah social yang di alaminya.

Setidaknya tiga hal tersebut mampu menjadi instrument perekat harmonisasi orangtua terhadap anaknya. Menjadi keluarga tauladan, menjadi keluarga idaman, di sisi Allah dan di sisi manusia. Akhirnya kita tahu apa yang ditegaskan Allah dalam Alquran Qu anfusakum wa ahlikum naaroo “jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka”. Semoga kita mampu menjadi anak dan orang tua yang baik dalam kehidupan ini.

Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan
(Tulisan Tanya Jawab ini telah terbit di harian Medan Pos pada tanggal 02 Mei 2021)