Wanita-wanita Tangguh dalam Sejarah

WANITA-WANITA TANGGUH DALAM SEJARAH

3 minggu 1 hari 8 jam 3 menit yang lalu 02 Jun 2021 Artikel100
Ket Gambar : Gambar dari internet

Peradaban agung yang dibangun oleh manusia dalam sejarah dunia tidak dapat dipisahkan dari peran wanita-wanita hebat dan tangguh.

Para wanita lahir, selain disiapkan oleh Tuhan sebagai pendamping pria, tetapi juga berkiprah sebagai penopang, bahkan pencetak peradaban maju dan tidak terlupakan.

Ratu Balqis, Asiah dan Cleopatra adalah deretan model dan citra wanita hebat sepanjang masa dan menorehkan prestasi gemilang dalam rangkai dan bangun peradaban umat manusia.

Biasanya dibalik pria hebat selalu ada wanita tangguh dan luar biasa sebagai mitra, penguat atau inspirator hingga ciptakan harmoni dan sinergi dalam lahirkan gagasan-gagasan cerdas dan strategis demi ciptakan tatanan indah dan memanusiakan.

Di samping Ibrahim ada Sarah, di belakang Akbar ada Joda dan di dekat Muhammad ada Khadijah.

Eksistensi dan aktualisasi peran wanita bukan saja dalam altar keindahan dan cinta kasih dan cerita tentang damai dan bahagia, tetapi juga dalam sejarah perang dan pertempuran.

Sebagaimana Cut Nyak Din dan Cut Nyak Meutya dalam sejarah perang kemerdekaan Indonesia, maka dalam sejarah perang Nabi juga peran perempuan sangat menentukan dan signifikan.

Nusaibah binti Ka'ab al Ansariyah adalah satu dari wanita tangguh dan hebat yang dijanjikan Nabi akan disambut para malaikat di Syurga karena peran-peran yang dimainkannya dalam perang bersama Nabi dan Sahabat.

Wanita yang diserahi urusan medis dan logistik dalam perang Uhud ini ikut maju ke medan laga perkuat barisan pengawal Nabi dan terkena 12 tusukan dan sayatan pedang musuh demi lindungi Muhammad dari serbuan serdadu Kuffar.

Sejumlah perang telah diikuti oleh sosok ini dan memainkan kiprahnya dengan cemerlang dan puncaknya bersama puteranya membunuh Musailamah al Kazzab di masa kekhalifahan Abu Bakar.

Nusaibah adalah model yang mencerminkan kekuatan jiwa dan fisik hingga torehkan lakon yang tidak biasa dalam perjuangan dakwah Nabi.

Rindu Syahid adalah ideologi sahabat ini. Syahid harus dijemput dan diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga yang diinspirasi oleh cita-cita agung, tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi.

Wajar, saat seorang puteranya syahid dalam sebuah misi perjuangan, Nusaibah bukan bersedih, malah menyambutnya dengan senyuman, seolah "iri", kenapa tidak ikut syahid bersamanya.

Sejarah Nusaibah mengingatkan penulis pada kisah seorang Ibu yang mendatangi Imam Khomeini dalam sejarah perang Iran.

Ibu tersebut menangis tersedu-sedu di hadapan imam Khomeini melaporkan syahidnya 10 orang puteranya. 

Sang Imam bertanya, "Kenapa ibu menangis begitu mengharukan dan ini membuat saya ikut merasa bersalah karena orang paling bertanggungjawab atas terjadinya perang ini?", 

Ibu tersebut menjawab, "Tangis ini wahai Imam bukan karena sedih kehilangan 10 putera dalam perang ini, tetapi disebabkan tidak punya putra lagi untuk dipersembahkan untuk syahid dalam perang berikutnya".

Begitulah sejarah wanita-wanita hebat, yang peran dan kiprah mereka luar biasa dan tak tertandingi sepanjang sejarah.

Nusaibah adalah potret yang dirindukan oleh setiap orang dalam jalani kehidupan dan perjuangan demi masa depan umat dan bangsa ini.

Fa'tabiru!!!!!

Dr. Salamuddin Lubis, MA

Anggota Komisi Siyasyah Syar'iyyah dan Kerjasama Antar Lembaga MUI Kota Medan