Islam Membenci Kezhaliman

ISLAM MEMBENCI KEZHALIMAN

2 minggu 5 hari 7 jam 24 menit yang lalu 05 Jun 2021 Artikel104
Ket Gambar :

Akhir-akhir ini media, baik televisi, surat kabar maupun media online, memberitakan betapa kezhaliman telah merajalela di negeri ini. Di antaranya, adalah begal, pembunuhan, korupsi dan bahkan pembunuhan karakter. Aksi-aksi kezhaliman yang terjadi adalah perbuatan yang tidak manusiawi. Bahkan, aksi kezhaliman tersebut merupakan sebuah pengkhianatan dan pelecehan terhadap kemanusiaan, hak asasi manusia, dan demokrasi.

Islam sangat membenci aksi kezhaliman apa pun bentuknya. Karena Islam senantiasa mengajarkan dan memerintahkan kepada umatnya untuk menjunjung-tinggi kedamaian, persahabatan, dan kasih sayang (rahmatan lil alamin). Bahkan al-Quran menyatakan, bahwa orang yang melakukan aksi kezhaliman termasuk golongan orang yang merugi dalam kehidupannya. Di dunia akan di cap sebagai pelaku kejahatan dan di akhirat kelak akan dimasukkan ke dalam api neraka Jahannam. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Kahfi [18]: 103-106, 

“Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.Demikianlah Balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.”

Jika ditilik dalam as-sirah an-nabawiyyah, terjadinya perang Badar sebagai perang pertama yang terjadi antara kaum Muslimin dan golongan kafir Quraisy bukanlah diakibatkan karena adanya perbedaan agama dan keyakinan, tetapi karena kezhaliman yang telah dilakukan oleh orang kafir. Allah Swt berfirman

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya (dizhalimi). Dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj [22]: 39).

Melalui firman Allah tersebut, dapat dimafhumi bahwa Islam adalah ajaran yang sangat membenci kezhaliman dan ketidakadilan, siapapun yang melakukannya, termasuk jika dilakukan oleh kaum Muslimin, dalam berbagai lini kehidupan. Sebagaimana disitir di dalam Al-Quran, 

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90). 

Di dalam kitab Shafwatut Tafaasiir dimaktubkan, Ibnu Masud menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahwa ayat ini mencakup tiga sumber kebaikan yang harus dilalukan oleh kaum Muslimin dan tiga sumber kerusakan yang harus dijauhi. Tiga sumber kebaikan itu adalah keadilan, berbuat kebaikan dan menghubungkan persaudaraan. Sedangkan tiga sumber kejahatan adalah berbuat kezhaliman, melakukan kemungkaran dan menghapus keadilan.

Oleh karena itu, sebagai pribadi muslim kita sangat dituntut untuk menolak kezhaliman yang terjadi di sekitar kita. Karena semakin banyak aksi kezhaliman dan dibiarkan begitu saja sesungguhnya hanyalah akan mendatangkan azab dan malapetaka dari Allah Swt. Tentunya, jika azab itu datang, ia tidak hanya menimpa orang yang melakukan kezhaliman tapi juga mereka mereka yang tidak melakukannya. Allah Swt. berfirman,

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25). 

Ayat di atas, sejatinya, memberikan titipan pesan bahwa umat Islam, senantiasa, diharuskan menggalang kekuatan dan gerakan moral dalam menghadapi kezhaliman yang merajalela di sekitarnya. Dengan gerakan ini kita berharap dapat melawan kezhaliman dan kesombongan yang dilakukan oleh para pelaku kezaliman. Karena gerakan moral yang menolak kezaliman hakikatnya sebuah kebenaran (al-haq) yang sangat dibutuhkan manusia. Sedangkan kezhaliman adalah sebuah kebatilan yang harus dihancurkan karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Allah Swt berfirman, 

“Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa´ [17]: 81).

Selain dengan menggalang kekuatan dan gerakan moral, adalah yang terlebih utama sebenarnya setiap pribadi muslim harus mengenal bagaimana cara menghapus kezhaliman yang, mungkin, dilakukan oleh dirinya sendiri. Karena jika diri sendiri tidak melakukan kezhaliman tentunya kezaliman yang ada di sekitar pun akan segera hilang. 

Sayyid Mahdi Ash-Shadr di dalam buku “Mengobati Penyakit hati: Meningkatkan Kualitas Diri” halaman. 90 mengajarkan ada empat cara mengurangi gejolak kezhaliman. Pertama, mencamkan dengan benar manfaat-manfaat yang ditimbulkan keadilan dan pengaruhnya yang indah, seperti semakin luasnya suasana kedamaian, hubungan harmonis, serta kebahagiaan. Kedua, mengambil pelajaran-pelajaran dari kerugian serta kerusakan mental dan material akibar kezhaliman. Ketiga, memperkuat kontrol agamis dengan cara mendidik kesadaran dan perasaan-perasaan yang berkaitan dengan nilai-nilai dan konsep-konsep keimanan yang terarah. Keempat, mempelajari contoh-contoh para penguasa zhalim yang mengalami konsekuensi buruk akibat tindakan kezhaliman yang mereka lakukan. 

Karena itu, jika kita ingin mengentaskan kezhaliman yang ada di negeri ini tentunya pribadi kita masing-masing juga harus mampu mengnontrol diri agar tidak melakukan kezhaliman. Tidak ada reaksi tanpa aksi. Tidak akan merajalela kezhaliman jika tidak dilakukan kezhaliman terlebih dahulu. Perlu diingat kembali, Rasulullah diutus kedunia ini untuk mengentaskan kezhaliman. Sudah tentu selaku pengikutnya kita juga harus melakukan hal yang sama. Caranya, mulailah mengontrol diri untuk tidak melakukan kezhaliman terhadap orang lain. Semoga kezhaliman di negeri ini segera dapat dientaskan. 

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Ketua Komisi Informatika dan Komunikasi MUI Kota Medan