Belajar Membaca

BELAJAR MEMBACA

4 minggu 8 jam 24 menit yang lalu 27 Mei 2021 Artikel171

Membaca adalah perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Membaca tidak ‘bebas nilai’, tetapi dengan nama Tuhan Yang Menciptakan manusia, Makna ayat ini bukan hanya mengawali bacaan dengan Bismillahirrahmanirrahim sebagai formalitas, tetapi secara substantif mengikuti sistematika dan metodologi yang benar.

Metodologi ‘membaca’ yang benar tentunya dengan menggunakan instrumen empiris, rasio dan intuisi dan disesuaikan dengan karakteristik objek yang akan dibaca, sehingga menghantarkan kepada pengetahuan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Objek yang dibaca adalah ayat Allah, baik yang tersurat (Alquran & Hadis) maupun yang terhampar (alam semesta). Namun di antara sekian banyak ayat Allah, proses penciptaan dan hakikat manusia adalah prioritas utama untuk dibaca. Sebab manusia lah yang membaca, dan yang terdekat dari subjek (pembaca) adalah diri manusia itu sendiri (khalaqal insana min ‘alaq ; yang menciptakan manusia dari sperma).

Bagaimana bisa seorang yang tidak mengenal dirinya bisa membaca ayat Tuhan yang lain dengan baik? Karenanya, proses awal aktifitas membaca idealnya dimulai dari sini, karena akan mengantarkan manusia mengenal Tuhannya. Tatkala ia mengenal Tuhannya, saat itulah ia dapat membaca sesuai metodologi yang benar. Ia akan membaca karena Tuhan, demi Tuhan dan Untuk Tuhannya, Allah.

Hal ini sejalan dengan dengan ungkapan terkenal di kalangan Sufi; siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya, dan siapa yang mengenal Tuhannya, dirinya akan binasa (tidak sombong atau angkuh di hadapan Allah).

Urgensi mengenal diri dinyatakan juga dalam surah az-Zariyat ayat 21; ????? ???????????? ??????? ???????????; dan pada diri kamu, apakah kamu tidak memikirkannya? Tidakkah kamu takjub dengan proses penciptaan manusia dengan segala potensi dan keunikan yang dimilikinya, kata az-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf, al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani dan Khazin dalam tafsirnya Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil saat menjelaskan makna ayat ini.

Manusia itu menarik untuk dikaji mengingat ia mikro kosmos, mengandung seluruh unsur alam semesta (mineral, tumbuhan dan hewan), kata Jalaluddin Rumi dan Sufi lainnya. Sehingga tatkala manusia mengenal dirinya, maka ia akan mengenal alam semesta sebagai ‘makrokosmos’, dan akan menyaksikan kemahakuasaan Allah dalam proses penciptaan itu.

Secara ilmiah juga telah dibuktikan betapa luar biasanya mekanisme penciptaan manusia, mulai dari proses awal berupa nutfah, ‘alaqah, mudgah, ‘izama, lahma hingga ruh dihubungkan kepadanya. Tak terhingga buku dan tulisan yang mengkaji tentang diskursus ini dan akan sangat gampang ditemukan bagi yang berminat membaca dan memahaminya.

Zaglul al-Najjar mengemukakan bahwa salah satu keunikan yang perlu dibaca oleh manusia pada dirinya adalah terkait dengan ‘tulang ekor’ atau ‘’ajab az-zanab’, sebagaimana dikemukakan oleh nabi Muhammad Saw dan telah dibuktikan oleh penemuan ilmiyah pada saat ini.

Tulang ekor atau simpul primer berfungsi mengatur proses pembentukan seluruh organ dan sistem tubuh janin, melalui pergerakan sejumlah sel lapisan atas ke arah benang dasar di mana sel tersebut tertanam. Ia juga tidak bisa hancur dan binasa dalam berbagai kondisi walaupun yang bersangkutan telah meninggal dunia dan di tanam di dalam kubur, kata peneliti Jerman peraih hadial nobel bidang Biologi tahun 1935 itu.( Zaglul an-Najjar; Sains Dalam Islam, h. 498).

Tatkala seluruh fisik manusia terurai menjadi komponen dasar penyusunnya, maka yang tersisa hanyalah ‘tulang ekor’ atau ‘simpul primer’, dan dari sini lah kelak ia akan kembali dirakit pada saat berbangkit. Dan ini telah diisyaratkan oleh nabi pada 1400 tahun yang lalu dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim, ‘seluruh (bagian tubuh) anak adam akan dimakan tanah kecuali tulang ekor.’

Melalui hadis dan penelitian ilmiah ini terjawab persoalan musykil yang menjadi perbincangan para filosof dan ulama Islam sejak dulu hingga saat ini. Diskursus siksa kubur dan berbangkit menjadi terang benderang baik dari sisi akidah maupun dari sisi ilmiah. Ia bukan lah mustahil tetapi bersifat mungkin dan mudah bagi Allah.

Dengan demikian, membaca diri akan mengantarkan manusia pada kesadaran mendasar tentang dari mana asalnya, sedang dimana berada dan akan menuju kemana. Aktifitas ini juga akan menyadarkan manusia akan kebesaran Allah dan keagunganNya (wa rabbuka al-akram). Karena sesungguhnya, Allah lah yang mengajari manusia membaca dan menulis dan mengajari manusia yang tidak diketahuinya (allazi ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insana ma lam ya’lam).

Selain membaca diri, membaca ayat Qur’an juga harus dilakukan demi memperkuat bobot iman akan kemahakuasaan Allah. Informasi al-Quran pasti kebenarannya. Penemuan penelitian mutakhir semakin memperkokoh klaim Alquran sebagai kitab petunjuk dan tidak mengandung kelemahan serta kesalahan.

Misalnya saja informasi Alquran tentang matahari. Jauh hari Alquran menyatakan bahwa sumber cahaya matahari berasal dari dirinya sendiri. Seperti halnya pelita (lampu minyak) yang memancarkan cahaya sebagai akibat proses pembakaran pada dirinya sendiri. Allah Swt menyatakan dalam surah Nuh ayat 16, ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita’.

Penelitian mutakhir mengkonfirmasi informasi Alquran tersebut, bahwa panas matahari murni dihasilkan dari aktifitas internal matahari oleh reaksi fusi termonuklir yang menggabungkan inti-inti atom hidrogen untuk membentuk inti atom helium. Cahaya dan panas tersebut kemudian dipancarkan ke segenap penjuru, termasuk ke bumi. (Muh. Ma’rufin Sudibyo; Ensiklopedi Fenomena Alam Dalam Alquran, h. 202).

Petunjuk Alquran di berbagai bidang dan disiplin ilmu, baik fisika, kimia, biologi, astrologi dan lain lain semakin meyakinkan kita, bahwa Alquran bukan kitab biasa, tetapi kitab suci yang kebenarannya pasti. Tugas kita adalah membaca dan menelitinya, sehingga kita sampai pada kesimpulan yang benar dan meyakinkan akan kebenaran kalamnya dan kesesuaiannya dengan hukum alam (sunnatullah) yang ditetapkannya di alam semesta.

Dengan demikian, kelihatannya kita perlu ‘belajar membaca’ secara terus menerus sesuai dengan perintah ayat pertama surah al-‘alaq tersebut yang menggunakan fi’il amar (kata kerja perintah), yang dari sisi waktu bermakna proses terus menerus dan tidak kunjung henti.

Selamat membaca sahabat!

Dr. Salamuddin Lubis, MA