Ilmu Selamat Yang Diajarkan Rasul SAW

ILMU SELAMAT YANG DIAJARKAN RASUL SAW

2 minggu 6 hari 8 jam 33 menit yang lalu 04 Jun 2021 Artikel279
Ket Gambar :

Pernahkah kita merasakan hidup susah atau rezeki terasa seret? Rumah tangga sudah dibangun bertahun-tahun, tapi tak membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah? Atau, sampai sekarang belum menikah, tapi tidak tahu apa sebabnya? Atau kita merasakan hal-hal yang kurang baik mengenai kita. Sehingga, terkadang muncul beragam pertanyaan dalam diri, apa yang bisa menyelamatkan kita dari hal-hal kurang baik tersebut?

Rasulullah SAW sudah memberikan langkah penyelamatannya, tapi barangkali kita tidak mempelajarinya. Atau, kita tidak pernah mendengar sabda mertuanya Ali bin Abi Thalib. Beliau bersabda, “Tiga hal yang dapat menyelamatkan manusia. Pertama, takut kepada Allah di saat sendirian maupun di tempat ramai. Kedua, hemat, baik saat tidak mempunyai apa-apa maupun saat berkecukupan. Ketiga, adil, baik saat ridha maupun saat benci.”

Ketiga pesan Rasulullah SAW ini bila mampu diterapkan dengan benar-benar dalam kehidupan, tak bakal ada kesusahan yang dirasakan. Hidup selalu dalam kebahagiaan. Sebab selamat dari murka Allah SWT. Bagaimana tidak! hidup selalu dalam bingkai ingat kepada-Nya.

Takut di saat sendirian maupun di tempat ramai. Memahami takut di sini bukan sekedar malu. Takut di sini bukan dengan maksud menghindar. Tapi memahami takut di sini dengan konsep akidah. Kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Jika demikian, tak akan mungkin kita berani berbuat dosa. Bahkan lintasan hati untuk menilai buruk pun tak akan terjadi. Sebabnya apa? Tahu bahwa Allah SWT Maha Mengetahui apa pun itu. Makanya di saat ramai ataupun di saat sendiri, tak akan pernah buat zhalim

Pernah dengar cerita syeikh Junaid al-Baghdad menyuruh murid-muridnya membeli ayam di pasar lalu disuruhnya sembelih di tempat yang tidak ada yang mengetahuinya? Ketika kembali bertemu, syeikh Junaid bertanya kepada masing-masing muridnya? Hampir semua muridnya sukses menyembelih ayam tersebut, tapi ada murid yang masih muda yang kembali dengan membawa ayamnya. Dia ditertawakan oleh teman-temannya. Tapi Syeikh Junaid malah bahagia melihatnya, dan kemudian bertanya kenapa tidak jadi disembelih ayamnya. Pemuda tersebut pun menjawab, “Bagaimana bisa aku menyembelih dengan syarat tidak ada yang melihat. Sedangkan Syeikh mengajarkan kepadaku bahwa Allah Maha Melihat. Mungkin manusia tidak ada yang melihat, tapi Allah Maha Melihat.” 

Itulah contoh seseorang yang takut kepada Allah, tidak hanya di saat ramai. Saat sendiri pun dia tahu bahwa Allah Maha Melihat. Jika kita memiliki pemahaman bahwa Allah Maha Melihat apa yang kita lakukan dan Maha Mengetahui apa yang terlintas di hati, pasti kita selalu menjadi orang yang bijaksana. Tak akan pernah berbuat zhalim terhadap diri sendiri maupun orang lain. Bukankah Allah SWT sudah berfirman, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (al Mumin : 19)

Jika kita sudah takut kepada Allah, kita bakal menjadi orang yang hemat. Hemat dalam memanfaatkan apa pun. Hemat dalam pemakaian apa pun. Mau saat rezeki yang diberikan Allah banyak atau sedikit, kita tetap memiliki pertimbangan dalam penggunannya. Sebab, semua nikmat yang diberikan Allah pasti dimintai pertanggungjawaban. Hanya orang yang hemat menggunakan karunia yang diberikan Allah, yang selamat dari hisabnya. Allah SWT berfirman, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Sungguh tepat bila Nabi SAW memesankan kepada kita, jika ingin selamat, baik di dunia maupun di akhirat, milikilah karakter hemat. Baik di saat berkecukupan atau saat tidak ada sama sekali. Kebanyakan manusia, suka menggunakan karunia yang diberikan Allah SWT secara berlebihan. Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan bahwa Dia tidak suka kepada hal yang berlebih-lebihan.

Makanya, pesan terakhir Rasulullah SAW agar kita senantiasa selamat adalah untuk tetap bersikap adil, baik di saat marah ataupun di saat ridha. Kenapa harus adil? Jawabannya, agar hemat yang dilakukan benar pada porsinya. Ada yang hemat dengan niat pelit. Sekilas, pelit sama hemat hampir sama. Bedanya, orang hemat pasti adil dalam memilih untuk tidak berlebih-lebihan menggunakan karunia yang diberikan Allah. Sedangkan orang pelit memang tidak mau menggunakan karunia Allah sesuai porsinya. Ia sengaja menahan karunia tersebut untuk berpisah dengannya.

Bila ketiga pesan Rasulullah SAW ini bisa dengan benar diaplikasikan dalam hidup, tak ada sifat cemburu dalam diri kita. Tak ada sifat sombong bersemayam di dalam diri. Tak ada sifat tamat pada diri kita. Apa sebab? Kita sudah menangkal sifat tersebut dengan dimulai takut kepada Allah di mana pun berada, hemat dalam memanfaatkan karunia yang diberikan dan Adil terhadap hal yang disukai atau tidak disukai. Sebab, kita semua juga tahu, bahwa tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa izin Allah. 

Karena itu, kalau ada yang kurang kita sukai. Gunakanlah ketidaksukaan itu secara wajar. Bila perlu, katakan pada diri bahwa semua yang terjadi itu sudah benar adanya. Allah sudah mengaturnya. Kita hanya mampu menyaksikan apa yang terjadi. Jika karakter sadar diri ini mampu kita miliki, tak ada lagi sifat marah, dendam, sakit hati, iri dan sifat-sifat buruk lainnya. Bagaimana pun terjadi, kita sudah ridha. Kalau sudah ridha, bukankah kita satu sisi sudah menang dan selamat? 

Oleh karena itu, agar kita selamat, baik di dunia maupun di akhirat, mari dipraktekkan pesan Rasulullah SAW ini dalam kehidupan. Tiga pesan tersebut sudah mewakili seseorang memiliki akhlak yang baik. Sebab di dalamnya ada praktik ilmu tauhid dan praktik ilmu akhlak. Semoga Allah SWT menggolongkan kita sebagai orang yang selalu takut kepada Allah di mana pun berada, hemat dalam pemanfaatan karunia yang diberikan-Nya, dan ridha dengan apa yang dihadirkan-Nya di dalam hidup kita.

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Penulis adalah Ketua Komisi Informatika dan Komunikasi MUI Kota Medan