MUI Medan Gelar Seminar Tantangan Dakwah Terhadap Generasi Milenial

MUI MEDAN GELAR SEMINAR TANTANGAN DAKWAH TERHADAP GENERASI MILENIAL

1 bulan 2 hari 5 jam 18 menit yang lalu 30 Okt 2021 Berita 63
Ket Gambar : Wakil ketua umum MUI Medan, Burhanuddin Damanik saat membuka acara seminar Tantangan dan Peluang Dakwah terhadap generasi milenial

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kota Medan melalui Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat menggelar seminar Tantangan dan Peluang Dakwah Terhadap Generasi Milenial, Sabtu (30/10) di aula Kantor MUI Kota Medan. Acara dihadiri tiga narasumber Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan, Drs Burhanuddin Damanik, MA, Sekretaris Umum MUI Kota Medan, Dr Syukri Albani Nasution, MA dan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Medan, Drs Legimin Syukri, MA. 

Dalam materinya, Burhanuddin Damanik mengatakan, dakwah itu pada hakekatnya mengajak sehingga dengan begitu harus mengerti kondisi orang yang diajak, termasuk juga kecenderungannya. Sebab menurutnya tantangan dakwah sekarang ini lebih kompleks.

"Tren anak-anak milenial itu seperti apa. Mereka ini kan simple, instan, dan juga tidak bertele-tele, efisien, efektif. Ini yang perlu dipahami ketika kita mau melakukan aktivitas dakwah kepada mereka," ujarnya. 

Dakwah pada saat ini perlu melalui platform yang biasa digunakan oleh kalangan milenial. Misalnya media sosial yang beragam jenisnya. Bahasa yang disampaikan pun harus sederhana dan tidak terkesan menggurui serta memberi teladan.

"Dan juga menyampaikan hal yang inovatif, motivasi, itu jauh lebih efektif, akan masuk pesan dakwah daripada hanya sekadar ceramah yang bersifat verbal. Itulah diperlukan inovasi bagi para dai dengan mengadaptasi perubahan masyarakat," ungkapnya.

Burhanuddin menerangkan, hal itu pula yang sebetulnya diwariskan oleh Rasulullah SAW. Sebab Rasulullah diutus dengan menggunakan bahasa kaumnya dan bukan hanya bahasa verbal. Tapi juga bagaimana menyelami tradisi, kebiasaan, dan kecenderungan dari kaum yang akan dijadikan objek dakwah itu.

Karena itu juga, ketika seorang dai hendak berdakwah, maka harus disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Ketika objek dakwahnya seniman, maka dengan pendekatan seni.

"Itulah hakekat kontekstualitas dalam dakwah, dan ini menunjukkan sisi-sisi universal. Jangan sampai ketika berdakwah, orang justru menjauh karena kita tidak sensitif terkait kebutuhan dan juga kondisi si calon penerima pesan dakwah itu," tutur dia.

Sementara Syukri Albani dalam materinya Generasi Milenial Harus Baper, memaparkan tips sukses dalam berdakwah yakni jangan takut gagal, temukan peluang dan tidak mudah menyerah. Ia juga mengajak para pendakwah untuk mengikuti perkembangan zaman yakni dengan berdakwah lewat media sosial. 

"Pengguna media sosial harus merubah paradigma dari konsumtif menjadi produktif. Memberi inspirasi meski tidak banyak pujian. Ingatlah, pintar itu harus cerdasz benar harus baik dan dapat membawa perubahan buat bangsa dan kehidupan sosial," ungkapnya. 

Drs H Legimin Syukri, M Hum, menyatakan, tantangan dakwah bukan jalan mudah yakni tidak boleh ada kesalahan dalam memberikan informasi, menguasai sumber rujukan yang komprehensif, konsisten terhadap perkataan dan perbuatan serta menguasai aplikasi cek fakta. 

"Kemudian pendakwah dapat menggunakan bahasa agama yang sesuai dengan target pendengar tetapi tidak melanggar norma, menggunakanreferensi yang valid dan menggunakan dalil agama yang shahih," imbuhnya. 

 

Teks 

Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan, Drs Burhanuddin Damanik, MA, saat membuka acara seminar Tantangan dan Peluang Dakwah Terhadap Generasi Milenial, Sabtu (30/10). Waspada/Yuni Naibaho